Kerja Karena Allah

Suatu ketika saya berbicara dengan guru tentang ketidaknyamanan dalam tempat kerja. Waktu itu saya memang agak kesal dengan atasan karena kerjaan yang sejatinya telah diberikan kepada saya ternyata tidak bisa dikerjakan dengan nyaman lantaran adanya campur tangan atasan. Kalau ide sejalan saja tidak masalah, tapi ide atasan saya sungguh sangat konvensional di mata kami anak buahnya.

Sayangnya juga, ketika saya dan beberapa teman yang membantu, menyampaikan pendapat, tidak mendapat respon yang baik bahkan ada sedikit ‘umpatan’ dari atasan kami.

Saya juga menyayangkan apa yang dilakukan atasan akhirnya tidak sejalan dengan visi yang telah dibuat perusahaan. Sungguh sangat tidak nyaman bekerja dalam lingkungan di mana kita tidak menyukainya.

Saya berdiskusi pada guru saya atas ketidaknyamanan itu. Saya bilang kalau ingin resign tapi takut kalau besoknya tidak mendapatkan rezeki untuk hidup kami sekeluarga. Maklum, gaji saya di perusahaan itu bisa membuat kami sekeluarga menabung dan menutup semua kebutuhan.

Suasana hati saat itu sangat bergejolak karena apa yang diinginkan oleh hati untuk bekerja tidak ada dalam lingkungan saya bekerja. Suasana hati ini berimbas loh pada tindakan saya. Ketika berangkat saya malas sekali dan jika sudah mau sampai tempat bekerja, saya seperti ingin menguap terus menerus. Seperti membosankan.

Lantas apa saran yang diberikan oleh guru saya?

Saya sungguh kaget atas apa yang ditanyakan beliau. ” Mbak Diah, sebenarnya tujuan mbak untuk bekerja itu apa?”

Saya menjawab, “Untuk cari uang, Coach.” Begitu jawaban saya pada guru yang biasa dipanggil ‘Coach‘.

Beliau hanya bergumam sebelum melanjutkan pembicaraan.

“Mbak Diah, sebelum bekerja, apa mbak selalu berdoa? Apa doa mbak?” Tanya beliau lagi.

“Saya selalu berdoa, semoga usaha selalu dimudahkan dan dilancarkan, Coach,” jawab saya sambil bertanya-tanya, kenapa juga beliau tanya seperti ini.

“Mbak Diah, sebenarnya Allah itu seperti prasangkan hambaNya. Kalo mbak Diah berdoa ingin dimudahkan dan dilancarkan, mestinya Allah kabulkan juga. Masalahnya, niat mbak Diah bekerja itu karena uang bukan karena Allah. Jadi apa yang dikerjakan mbak Diah mesti selalu tidak benar.”

“Cobalah mbak Diah mengubah mindset niat kerja, ubahlah bekerja karena Allah. Bekerja karena ingin disenangi Allah. Berusaha karena ingin menjemput rezeki agar bisa menjadi bermanfaat bagi mbak Diah dan lingkungan. Bekerja karena Allah itu lebih mulia daripada bekerja untuk mencari makan.”

“Coba mbak Diah bayangkan, misal kita kerja karena uang dan mengesampingkan Allah, bisa jadi kecurangan bermain di sana-sini. Sampai disini bisa dimengerti kan?”

Saya mengangguk sambil sedikit terisak. Sungguh nasihat ini ‘nampol’ sekali buat saya.

Guru saya meneruskan, “Saya bukannya mau mengajak mbak Diah untuk tidak bekerja di sana, tapi ingat mbak Diah punya anak kecil yang masih berumur dua tahun. Sedang masa keemasan anak adalah sampai tujuh tahun. Apa mbak Diah mau, anak dikasihkan pengasuh sedang mbak Diah hanya mengejar uang untuk hidup?”

Sampai sini saya menangis keras…Astaghfirullah.

Saya sendiri merenungkan apa yang harus saya lakukan dengan segala pekerjaan. Saya tetap bekerja tapi dengan  mindset yang berubah. Saya bekerja karena Allah, ini membuat pikiran lebih tenang karena Allah di setiap langkah.

Saya juga berdiskusi dengan suami, ketika pagi sampai siang saya mengasuh anak-anak dan siang hari, suami yang ganti menunggu anak-anak, karena perusahaan membolehkan saya memilih jam kerja asal tetap memenuhi waktu yang telah ditetapkan.

Akhirnya saya memilih untuk membahagiakan orang-orang di sekeliling, terutama keluarga dengan mendekat kepada Allah. Memang berasa beda jika tidak memilih Allah ada di samping kita. Adanya cuma pikiran yang ‘kemrungsung’ karena diburu oleh deadline.

Karena Allah juga yang mengizinkan kita untuk bahagia, yuk mendekat….

 

Terinspirasi dari semua yang saya baca di Kelas Afirmasi Online, asuhan Coach Ahmad Sofyan Hadi.

Yuk join di Channel Telegram:

t.me/KelasAfirmasiOnline

 

 

 

 

Nurdiah75

Ibu tiga bidadari yang terus bertumbuh menjadi sholihah. Mengajar di STIE Mitra Indonesia, sebagai analis tanda tangan, menulis dan bertani. Sangat menyukai semua hal yang positif dan bermanfaat, karena itu bisa menular ke teman yang lain...sharing is caring, setuju?

This Post Has 16 Comments

  1. Aku sudah join kelasnya, awalnya juga karena salah satu postinganmu mba di Fb. Alhamdulillah banyak perubahan positif yang aku rasakan juga.

    1. Iya …memang pengen nulis bareng sama mbak dwi untuk masalah ini. Bikin buku yuk mbak…

  2. Mbak, nasehatnya beneran nampol. Saya jadi instropeksi juga. Sudah benar belum niat saya untuk bekerja. Makasih ya mbak sudah diingatkan

    1. Sama sama mbak lisa…semoga kita berada di jalan yang disenangi Allah

  3. Setuju. Semua yang kita lakukan harus karena Allah. Kadang kita lupa.
    Makasih Mbak remindernya….

    1. Sama sama mbak…semoga selalu ingat bahwa yang merencanakan semua kehidupan kita adalah Allah ya mbak

  4. Inspiratif banget Mbak, kerja tuh karena Allah. Gampang diucapin tapi ternyata susah diaplikasikan. Harus lebih banyak muhasabah akunya nih.

    1. Iya bun…saya banyak merenung untuk hal ikhlas ini …

  5. Betul mbak kerjalah karna Allah hiduplah karna Allah. Kalo tujuan kita udah kesana insyaAllah semua beban pekerjaan jadi enjoy dan Allah mudahkan. Semoga senantiasa istiqomah yah mba

    1. Aamiin…suka nangis saya kalo sudah dibilang istiqomah…Astaghfirullah…

  6. Masyaallah… Persis dgn apa yang saya rasakan mbak. Sebelum resign sy juga takut gak ada rezeki. Tapi Alhamdulillah saat sudah mantap ya ada aja rezeki

    1. Iya bun…saya juga sudah mantap bekerja karena Allah saja. Saya belum resign tapi kerjanya sudah mulai santai dan nyaman

  7. Masyaallah saya bacanya mak deg gitu. Kok iya iya setelah di pikir pikir, heu. Terkadang kita terlalu sibuk mengurus dunia tanpa mementingkan akhirat. Enggak inget bahwa kita akan selamanya meninggalkan dunia ini. Duh, jadi merinding baca tulisanya mba. Makasih remindernya mba, semoga kedepannya kita lebih baik. Aamiin.

    1. Aamiin…saya juga makjleb mbak, waktu dikasih saran sama Coach Sofyan ini

  8. kerja karena Allah. aku pernah kok mengalaminya. sekarang menikmati pekerjaan dengan enjoy

    1. Iya mbak, kalo kerja karena Allah saja, hatinya jadi tenang

Tinggalkan Balasan

Close Menu