Jangan Lari Nanti Jatuh!

Foto diambil dari pixabay dalam bobo.grid.com

 

Di suatu pertemuan PKK…

Seorang ibu berteriak kepada anak balitanya, “Jangan lari-lari, nanti jatuh!”

Dan semenit kemudian si balita benar-benar jatuh.

Pernah dengar kan teguran yang seperti itu?

Atau begini…

“Kalo belum makan nasi, jangan makan buah, nanti sakit perut!”

“Jangan hujan-hujanan, nanti sakit!”

dan masih banyak lagi kalimat dengan kata ‘jangan’

Apa yang salah dengan kata ‘jangan’?

Sebenarnya, sih enggak ada. Hanya saja kata ‘jangan’ banyak dikaitkan peristiwa sebab-akibat. Saya jadi kasihan dengan kata ‘jangan’ hiks.

Sering dengar ya, kalau apa yang kita ucapkan adalah DOA, Sepakat?

Tapi yang lebih menakjubkan lagi, sebenarnya apa yang ada pikiran kita pun adalah doa. Kalau kita memikirkan yang indah dan bahagia, pasti Allah meminta malaikatNya untuk meng-Aamiin-kan.

Nah, kalau kita memikirkan yang tidak indah? Sama saja laaah. Allah juga meminta malaikatNya untuk meng-Aamiin-kan. Yang ini, sudah pasti menyeramkan bukan.

Pernah baca kan ketika seorang pemuda merasa tidak bahagia kemudian dia menulis di akun Facebooknya kalau ingin mati saja. Kemudian beberapa saat dia memang meninggal dunia karena kecelakaan. Sebenarnya selain karena ini memang takdir pemuda itu untuk meninggal, pikiran pemuda itu sudah penuh doa untuk meninggal.

Atau ketika kita ingin siomay panas dan sambal kacangnya terhidang di depan mata beserta teh tawar hangat, lalu ada seseorang teman mengirimkan siomay panas lengkap dengan sambal kacangnya. Yang ini sih Alhamdulillah banget.

Apa yang kita pikirkan akan menuju ke alam semesta yang juga penuh dengan makhlukNya. Dan mereka memohon kepada Allah untuk mengabulkan apa yang ada di pikiran kita.

Kembali lagi ke masalah ucapan.

Jadi, please, hati-hati dengan apa yang kita ucapkan apalagi yang kita pikirkan.

Semua yang kita ucapkan akan terekam dalam pikiran anak. Seorang Ibu yang selalu menekankan kata ‘jangan’ begini nanti ‘anu’ bisa jadi menekan anak balitanya yang notabene sedang ‘gila-gilanya’ mencari tahu. Bisa jadi balita ini kemudian merasa tertekan dan bertindak pasif atau bahkan lebih reaktif seperti larangan ibunya malah dilakukannya dengan senang hati.

Saya jadi ingat pada teman yang dianalisis tanda tangannya. Sejak kecil dia selalu ditekan agar berhasil dan dibanding-bandingkan dengan saudaranya. “Mau jadi apa kamu besok, kalau sekarang aja apa-apa enggak bisa. Lihat itu kakak-kakakmu pada pinter-pinter,” begitu kata Ibu beliau.

Akhirnya sampai besar beliau depresi karena tidak bisa menjadi yang diinginkan orangtuanya. Beliau marah kepada orang tuanya karena selalu dibanding-bandingkan dan sekaligus marah pada dirinya sendiri karena merasa tidak berhasil.

Sebenarnya itu bukan semata salah beliau loh. Karena pikiran adalah doa. Apa yang diucapkan orangtuanya menjadi kenyataan. Seolah Allah mau bilang pada orangtuanya “Ini loh yang kalian minta!”

Wahai Ibu dan Bapak, kita sebagai orangtua tolonglah bijak dalam berpikir dan berbicara. Ubahlah mindset kita yang tidak positif menjadi lebih baik. Enggak mau kan, kalau anak-anak tidak sesuai dengan harapan kita? padahal itu adalah jawaban doa dari Ibu Bapak sekalian yang berbicara tidak baik pada anak-anak.

Bisa jadi, anak-anak jadi mengikuti apa yang kita pikirkan dan bicarakan. Anak kan peniru ulung!

Orangtua galak, anak juga bisa jadi galak. Anak yang tertekan bisa jadi di luar melakukan perudungan pada temannya karena kurang kasih sayang. Anak yang terkena perudungan juga karena tidak berdaya menghadapi perudungan, itu juga mungkin karena dalam lingkungannya, orang tua selalu menekan.

Efek yang terus berputar dan sangat tidak nyaman. Mau memutuskan rantai ini?

Yuk jadi orangtua yang sayang pada anak-anak dengan berpikiran dan berbicara yang ikhlas dan bahagia.

 

 

 

Nurdiah75

Ibu tiga bidadari yang terus bertumbuh menjadi sholihah. Mengajar di STIE Mitra Indonesia, sebagai analis tanda tangan, menulis dan bertani. Sangat menyukai semua hal yang positif dan bermanfaat, karena itu bisa menular ke teman yang lain...sharing is caring, setuju?

This Post Has 32 Comments

  1. kadang suka kebablasan sih ya, enggak sadaar lebih tepatnya. ketika anak melakukan kesalahan suka reflek marahin, terus nyesel dan merasa kasihan hiks. emang harus dirubah biar anak enggak niru. Makasih bun sharingnya.

  2. Setuju ini..aku seringnya gitu deh keknya ke ponakan jangan main itu kotor eh taunya dia malah sengajain main. Emang waktu parenting juga semakin kita larang anak akan semakin penasaran kenapa dilarang makanya mereka refleks akhirnya melakukan yg dilarang tersebut. Harua bisa belajar pembendaharaan kalimat yang baik sepertinya yah bun

  3. Semakin mengingatkan untuk bisa memberi contoh yang baik ke anak-anak. Setuju banget kalau perkatan orang tua itu adalah doa. Kudu hati-hati dalam berbicara.

    1. Iya mbak….hati-hati dalam berbicara dan saya juga masih berlatih nih

  4. Aku sedang berusaha untuk mengubahnya juga nih mbak. Kata jangannya jadi ilang, saya ganti jadi ” hati-hati jatuh yaa ”
    PR jadi mamak dan sebagai pribadi yang harus lebih hati-hati dalam berkata

    1. Jangan itu enggak papa kok mbak Yasinta…tapi memang harus dibarengi dengan penjelasan yang positif. Saya juga masih latihan

  5. Sepakat. Makanya pesan Nabi Muhammad itu bener ya harus berhati-hati dengan lisan ini. Walau prakteknya memang berat, masih suka keceplosan aja. Heu. Perlu latihan terus.

    1. Iya mbak Mira…perlu latihan banget biar enggak kepleset. Saya juga masih sering kepleset

  6. Sip. Lebih baik berusaha berpikir positif trus menggunakan kata2 positif ya. Kalau pun takdir berkata lain, energi positif kita akan lebih siap menghadap karena kita terbiasa optimis.
    Penting juga untuk teladan anak2 kita.
    Makasih sudah ngingetin 🙂

    1. Sama sama mbak Tatiek…berkata positif sama dengan berafirmasi positif dan itu sama dengan doa

  7. Sebagai seorang ibu kita memang harus hati-hati ya..soalnya ucapan itu adalah doa. Apalagi kalau bicara dengan anak sendiri. Harus hati-hati deh

    1. Iya mbak Nurul…saya juga masih latihan bicara yang positif buat afirmasi

  8. Setuju banget, bunda. Etapi, perudungan itu maksudnya gimana, ya? sayanya gak ngeh nih. hehehe

    1. Perudungan adalah kata lain dari bully mbak….

  9. Terima kasih sudah mengingatkan ya Mbak..
    Seringkali kala emosi meninggi jadi asal nyablak ke anak..padahal setelahnya nyesel juga..Hiks
    Semoga saya makin bisa mengontrolnya

    1. semoga kita menjadi orang tua yang baik, memang butuh proses untuk membuat kalimat yang positif

  10. Udah berusaha bangetvuntuk tidak mengeluarkn kata kata negatif pada anak,namun kdng refleks, walau saya bilng jangan, cukup berhenti sampai di situ, jika anak bertanya batu saya jawab alasannya,

    1. ini memang perlu latihan mbak, lanjutkan saja dengan diberi keterangan yang mendidik

  11. Iya Mbak setuju jangan memakai kata “jangan”. Seringkali kita engga mikir sih. Jangan lari² nanti jatuh. Malah jatuh beneran. Udah gitu pas jatuh, yg disalahin lantainya. Lantainya yg dipukulin ama si Mamah. Sering liat kaan yg kayak gini…

    1. enggak papa sih mbak, pake kata jangan…tapi diberi tambahan keterangan agar anak mengerti apa yang tidak diperbolehkan yang tidak berupa doa

  12. Ternyata berkata jangan malah kejadian ya Mba, memang sebagai seorang ibu harus bisa memilah kata yang baik untuk anaknya.

    1. sebenarnya sih engggak papa bilang jangan, cuma diberi penjelasan lebih lanjut. misal: jangan lewat jalan itu, berbahaya karena licin…

  13. Betul sekali Mbak, orangtua mesti hati-hati dalam memilih kata yang disampaikan ke anak karena jika disampaikan itu berulang kali bisa berpengaruh buruk pada perilaku si anak

    1. ucapan adalah afirmasi…sedang afirmasi adalah doa. semoga anak kita terhindar dari sifat yang tidak baik

  14. ucapan adalah doa. itu yang selalu dibilang ibu. Dan aku mengamalkannya. berusaha bicara yang baik baik atau diam

    1. sebaiknya ucapkan yang baik baik saja mbak, agar anak atau orang-orang tahu apa baik atau tidak

  15. Harus hati-hati ya kalau berbicara. Salah-salah malah jadi negatif buat anak..

  16. Mbak makasih banyak sudah diingatkan lagi sama tulisan ini. Kadang masih suka bilang jangan, padahal jangan g salah apa apa *eh

    1. Kata jangan itu enggak papa kok mbak….asal ada alasan kenapa kok enggak boleh dengan persepsi yang positif

  17. Klau saya sih misal mengingkatkan anak diembel-embeli penjelasan, knp mesti gk boleh. Ya karena bla bla…jd anak tdk penasaran dan mncari thu jwbn sendiri..

    1. Iya bener bun, kalo dengan penjelasan, anak bisa terima kenapa kok enggak boleh…

Tinggalkan Balasan

Close Menu