Stop Baper

Gambar diambil dari www.rumahyatim.org

 

Subuh pagi, handphone saya sudah berbunyi cetung-cetung. Walah, waktunya ibadah kok sudah main handphone. Tapi entah kenapa ya, saya buka juga. Padahal mau lanjut menghafal Al Qur’an setelah sholat. Duh, ini ujian!

Dan ternyata isinya status baper -bawa perasaan- yang bikin melow habis di waktu subuh. Wah cepat-cepat kembali ke Al Qur’an nih biar enggak ketularan.

Pagi-pagi waktunya semangat….cemungut bu ibu, bukan ‘cemberut’. Tahukah kalau status yang seperti ini juga merupakan afirmasi yang enggak positif? Dan ini MENULAR loh!

Whaaaat?

Coba mari kita cerna perlahan.

Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar kata BAPER? Berlebihan dalam menanggapi suatu peristiwa atau situasi hati yang galau melow kan?

Apalagi situasi galau tersebut dituang dalam sebuah status seolah orang lainpun harus tahu isi hati si ‘tukang galau’. ‘Kalau saya galau, orang lain juga harus galau dong. Masa saya sendiri yang harus nanggung…sakitnya tuh disini..’

Maka setelah status ditulis dan dibaca oleh orang banyak, para pembaca akan merasa sedih juga. Jadi pagi-pagi yang harusnya bisa digunakan untuk bersyukur karena sudah diberi nikmat hidup diratapi dengan penuh ikhlas.

Alhasil, yang sudah baca status baper pun menjadi menurun aktivitasnya, meratapi situasi yang bukan untuk dia. ‘Kok sama ya statusnya dengan aku hari ini’ tuh kan.

Alhasil lagi, produktivitas menurun karena baper. Malas kerja, mengurus suami dan anak atau malah balik tidur lagi karena badan menjadi lemas.

Mari bayangkan, ketika kita buat status baper dan akhirnya dibaca oleh media sosial yang jutaan orang jumlahnya. Terus mereka juga akhirnya baper juga. Hal itu berarti kita mengajak mereka baper berjamaah. Terus mood  mereka down. Berarti dosa mereka karena hati enggak nyaman berjamaah ditimpakan ke yang buat status. Mau?

Sudahlah, ambil air wudhu dan maafkan orang yang bikin baper. Caranya, berdoa sama Allah agar Dia mengizinkan emosi yang tidak positif dari tubuh kita terangkat. Setelah itu minta maaf sama yang bikin baper. Loh kok enak, dia yang bikin baper tapi kita yang minta maaf…begitu kan isi hati orang yang baper?

Emang minta maaf cuma karena kita salah saja? Salah atau enggak, kita tetap punya dosa kok baik sama yang bikin baper atau lainnya. Lagipula minta maaf bukan berarti kalah kan?

Bayangkan wajah yang bikin baper lalu katakan kalo “Aku mencintaimu, Aku menyesal, Aku minta maaf dan Terima kasih.” Lakukan hal tersebut sampai hati plong.

Bagaimana tahu hati sudah plong? Kalau dalam tubuh kita sudah tidak bereaksi dengan permintaan maaf ini. Kalau masih ada yang mengganjal, mulas, malas, deg-degan atau mual dan sebagainya, itu masih belum plong. Sekali lagi, lakukan sampai plong. Karena kalau tidak plong berarti kita masih mau membuka luka di dalam hati. Mau jadi orang baperan?

Orang baperan itu seperti membawa karung beras ketika dia berjalan. Lantas mau sampai tujuannya kapan?

Oke…siap memaafkan orang yang bikin kita baper…yuk lakukan berjamaah. Biar saya dapat pahala berjamaah he he he

Nurdiah75

Ibu tiga bidadari yang terus bertumbuh menjadi sholihah. Mengajar di STIE Mitra Indonesia, sebagai analis tanda tangan, menulis dan bertani. Sangat menyukai semua hal yang positif dan bermanfaat, karena itu bisa menular ke teman yang lain...sharing is caring, setuju?

This Post Has 9 Comments

  1. Maaak, sekalian konsul ah. Aku nih klo hooponopono awalnya aja mual abis itu gak, besoknya juga ya awalnya aja mual. Nah sebenernya setelah mual itu artinya udah plong ya? Tapi bisa muncul lagi gt ya?

    1. Kalo masih mual, itu belum plong mbak dwi…
      Maaf biasanya berapa lama mbak dwi ho’oponopono?

  2. Baper itu bukan hal yang baik apalagi untuk hal yg negatif. Yap, sudah saatnya legowo sih, biar tentram hidup hihi. Makasih sharingnya bun.

  3. Setujuh banget. Baper bisa mematikan kreativitas ya, karena lelah bawa sekarung beras ya mbak

  4. Jangan sampai baper ah. Setuju dengan sarannya, kita mulai pagi kita dengan semangat no baper-baper. Iya kan?

    Baper itu bukan kasi solusi malahan nambah masalah. Jaga hati kita yuk!

  5. Hihihi repot ya mbak kalo dikit-dikit baper. Nggak produktif iya, bete iya, ah rugi pokokna mah. Mendingan nulis apa olahraga ya

  6. Aku sih laper iya, baper jangan eh…
    setuju sekali baper bikin hidup enggak maju. Kemana-mana bawa sekarung beras? ya enggak mau akuuuu

  7. Hmm, walopun kenyataannya di dumay tetep sering yak berseliweran status isinya galau dan baper. Katanya emang jalan plong-nya di situ 🙂
    Bener, nih. Biar ga ketularan baper, jgn buka medsos di saat ga tepat. Makasih udah diingatkan 🙂

  8. alhamdulillah sudah terbiasa menahan diri untuk tidak baper. terlebih saat di media sosial

Tinggalkan Balasan

Close Menu