Bully Bikin Keki

Ketika Athiya pulang sekolah, anak cantik ini langsung menghadap saya. “Mama, aku mau pindah sekolah!” dia berkata dengan nada bergetar.

“Ya Allah, kenapa mbak?” tanya saya ikut melow.

“Tadi di kelas, tulisanku dibaca keras-keras sama temenku. Padahal itu kan rahasia. Aku jadi malu,” Athiya menjawab sambil menatap mataku dalam-dalam. Entah apa yang ada dalam pikiran anak cantik ini, tapi saya juga merasa kesal.

Begini ni, kalau anak ada masalah di sekolah, terus diceritakan sama mamanya, biasanya sang mama, ikutan sebel. Padahal saya tahu, kalo itu juga akan menurunkan mood anak. Hmmm, saya coba ah, menyelesaikan dengan kepala dingin. Sebenarnya juga kepala saya sudah dingin kena AC.

Saya putar otak dulu sambil berpikir cara apa yang harus dipakai buat anak saya yang satu ini. Dia orangnya perasa banget. Bisa jadi, peristiwa ini akan membekas dalam hatinya, jika saya tidak cepat-cepat me- removeРdalam pikirannya.

Benar juga, sampai malam dan hari berikutnya, Athiya masih bertanya sama saya, “Mama, aku besok boleh enggak masuk?”

Ini saatnya sang mama memberi nasehat eaaa.

“Athiya, kalo ada yang nakal, bilang ke bu guru saja, ” kata saya, memulai petuah.

“Sudah ma, tapi bu guru cuma bilang … o ya … cuma itu,” Athiya mencoba menjelaskan.

“Oke, sekarang ke cermin yuk, kita belajar jadi orang kuat,” kata saya sambil memegang tangannya ke cermin.

“Mau apa, ma?” tanya Athiya heran.

“Kita latihan sandiwara,” jawab saya penuh rahasia.

Sampai di cermin, saya meminta Athiya untuk menirukan apa yang saya lakukan.

“Tirukan, ya! Hei temen, siapa kek namanya, aku enggak suka dan aku marah kalo kamu berlaku tidak baik seperti itu. Itu bikin aku malu!”

“Tirukan dengan mata menatap tajam tapi enggak usah melotot, seperti ini,” saya memberikan contoh.

Seketika Athiya menirukan dengan ragu-ragu.

“Yang tegas, mbak Thiya!” kata saya sambil meminta dia untuk mengulangi.

Dan dia pun mengulanginya berkali-kali. Ada lebih dari sepuluh kali sampai dia menemukan bahasa tubuh yang nyaman.

“Oke, ini sudah bagus. Besok kalo ada yang bikin mbak Thiya kesel lagi, inget mukanya, ya,” kata saya sambil mengajak dia tos.

“Mbak Thiya tahu, biarpun mbak Thiya pindah sekolah, kalau mbak Thiya masih diam ketika dinakalin, ya sama saja. Karena di sekolah mana saja, mesti ada anak yang nakal dan ada juga yang pendiam seperti mbak Thiya,” saya menjelaskan pada Athiya.

“Besok, mama yang bilang sama bu guru untuk cerita tentang mbak Thiya. Tapi tetep mbak Thiya harus jadi orang kuat. Oke,” saya kasih tos lagi.

“Nanti sebelum tidur dan ketika bangun tidur, mbak Thiya bicara keras tapi enggak usah teriak ya. Bilang seperti ini, aku pemberani, aku sholih, aku baik! Ucapkan kata itu sepuluh kali, nanti mama yang ngitung. Siap?” Saya memberi instruksi.

Athiya mengangguk setuju sambil ketawa simpul. Ya saya tahu, dia mesti bertanya dalam hati, “Ini, mama ngapain sih?”

Saya memang ingin mempraktekkan apa yang saya dapat dalam kelas afirmasi. Ketika kita mengulang pikiran yang baik secara berulang, itu akan menginstall pikiran menjadi baik.

Saya coba lakukan pada anak saya, dan Alhamdulillah, sampai hari ini dia sudah menjadi lebih pede. Coba deh…

 

Nurdiah75

Ibu tiga bidadari yang terus bertumbuh menjadi sholihah. Mengajar di STIE Mitra Indonesia, sebagai analis tanda tangan, menulis dan bertani. Sangat menyukai semua hal yang positif dan bermanfaat, karena itu bisa menular ke teman yang lain...sharing is caring, setuju?

This Post Has 8 Comments

  1. Mau coba ah, mbak.. gadis kecil saya suka menulis puisi atau oret oret apalah.. dia juga seperti mbak thiya,sewot kalau tulisannya dibaca temannya. Dia juga tidak suka berkompetisi di semacam lomba lomba

  2. Bullying memang kelihatannya sepele tapi kalau dilakukan terus menerus dan dalam tahap serius, bisa mengkhawatirkan perkembangan psikis seseorang di masa depan. Saat terjadi bullying di sekolah, betul banget bahwa anak harus dikuatkan dan peran guru di sekolah ditonjolkan. Saat guru diam saja, dia sudah menjadi pendukung pasif pelaku bullying itu. Terus percaya diri ya, Mbak Thiya …

  3. Emang ga enak bun di bully. Aku di bully pas SD dan SMA. Pas SD karna aku sakit2an saat itu huhu sering banget dibully. Pas SMA biasalah ini masa puber dibully krna cowo yg disukain org jadian sama aku **ehhh ini jadi curcol wkwkw bagus mbak solusi untuk anaknya jd bikin kuat

  4. Keren nih, mau saya coba praktikkan pada si bungsu. Terkadang, ada saja temannya yang iseng.

  5. Afirmasi positif memang sangat bermanfaat mba. Kita juga bisa pakai metode hipnosis (kalau nggak salah) yan dibisikkan ke telinga anak saat ia baru saja hendal pulas terlelap. Katanya itu akan sangat baik hasilnya.

  6. Wah, ilmu baru, nih.
    Bismillah mau Coba terapkan ke anak-anak ah. Semoga dapat membawa perubahan positif. Makasih ya, mbak

  7. Wah, boleh nih dicoba ilmunya, makasih ya mbak sudah buat tulisn ini

  8. Mungkin satu fase dlm periode tertentu anak merasa dibully sm tmnnya. Anak sy juga pernah sprti itu pulang sklh mnta pindah. Gegara dibully tmn sklhnya yang laki-laki. Tapi ini jdi tugad kita untuk mnyakinkn bhwa apa yg dibully tdklah benar. Betul kita kasih kekuatan dlm hti anak kita untuk lbh pede, optimis dan yakin bhw dirinya tk sprti yg diktkn tmn2nya. Mksh ya mb tuk sharingnya

Tinggalkan Balasan

Close Menu