GAS POL REM POL

Saya punya cerita yang mestinya ada dari beberapa temen-temen pembaca yang juga mengalaminya.

Suatu peristiwa yang enggak bisa lupa dan  sebenarnya bikin malu tapi kok ya ada pelajaran di balik cerita itu.

Begini  ceritanya…

Waktu itu saya sedang belajar naik motor dengan Bapak. Tetapi, walaupun yang jadi pengajar adalah Bapak sendiri, saya malah takut. Ya, Bapak galak banget, mungkin karena beliau seorang instruktur pesawat latih AURI. Bagi beliau, kalau muridnya tidak bisa terbang, bagaimana bisa melindungi Indonesia. Jadi kebiasaan itu terbawa sampai rumah, saya seperti muridnya Bapak.

Ketika belajar naik motor dengan Bapak, rasa takut mulai melanda. Saya malah enggak bisa konsentrasi karena Bapak bicara terus. Begini salah, begitu salah. Akhirnya peristiwa itu terjadi.

Saya enggak fokus dan mulai ‘mencium’ pagar kayu yang ada di depan. Saking takutnya saya malah menarik gas sekencangnya tapi rem saya injak dalam-dalam.  Saya tidak bisa berteriak, tapi jantung bergejolak tidak terkendali. Padahal posisi motor walaupun menabrak pagar kayu masih dalam posisi aman.

Gas pol rem pol…

Otomatis motor berasa mau lari tapi seperti ada tali yang menekannya untuk jalan. Kebayangkan, bagaimana suara mesin motor itu. Dan yang lebih memalukan, tetangga-tetangga pada datang bukan mau menolong tapi tetap memberitahu cara naik motor yang benar, haduuuh.

Sebenarnya kalau ingat cerita itu, malunya beuh beuh beuh. Tapi kalo saya hubungkan dengan apa yang terjadi pada cerita teman-teman, kok seperti ada benang merahnya.

Ketika mereka merasa emosi negatif masih bergelanyut manja pada hati, teman-teman ini komplain pada saya katanya terapinya kurang ‘jos’.  Mereka merasa belum sukses lahir batin.

Lha iyalah belum bisa sukses, lha wong emosinya masih dieman-eman. Padahal kalau kita mau maju berarti harus ada pelepasan energi untuk bergerak. Energi yang dimaksud adalah energi negatif tentunya. Coba kalau energi ini dilepas dan di buang jauh-jauh, pasti mereka akan melesat pesat.

Orang yang masih membawa emosi negatif itu seperti membawa karung beras dalam setiap langkah. Lucunya, walaupun berat juga mereka masih mau bawa karung itu. Eman-eman kali, he he he.

Terus sampainya kapan?

Lepaskan!

Lepaskan semua emosi enggak nyaman itu!

Biarkan motornya bisa jalan lagi. Biarkan pesawatnya bisa terbang tinggi.

Percaya deh, kalau emosi itu dibuang jauh-jauh, rasanya jadi ringan untuk melangkah. Seperti dikelilingi kebahagiaan.

So, yuk belajar naik motor, ups.

Belajar untuk menekan gar lebih kencang dengan melepaskan remnya.

Dicoba yes….

Nurdiah75

Ibu tiga bidadari yang terus bertumbuh menjadi sholihah. Mengajar di STIE Mitra Indonesia, sebagai analis tanda tangan, menulis dan bertani. Sangat menyukai semua hal yang positif dan bermanfaat, karena itu bisa menular ke teman yang lain...sharing is caring, setuju?

Tinggalkan Balasan

Close Menu